Teori "Opposite"
Aku dengar penjelasan atas "teori" ini dari KH Ahmad Asrori. Simple saja sebenarnya, (kurang lebih dalam bahasaku) yaitu prinsipnya untuk mencapai sesuatu kondisi, sebaiknya kita harus bersikap untuk merasa kebalikan dari kondisi yang kita inginkan tersebut.
Misal :
1. Jika kita ingin pandai, sebaiknya kita harus merasa bodoh
2. Jika ingin kaya, sebaiknya kita harus merasa miskin
3. Jika ingin mulia, sebaiknya kita harus merasa hina
demikian juga sebaliknya :
1. Jika kita ingin bodoh, sebaiknya kita harus merasa pandai
2. Jika ingin miskin, sebaiknya kita harus merasa kaya
3. Jika ingin hina, sebaiknya kita harus merasa mulia
Kelihatannya sangat simple, tapi secara kebetulan, secara naluriah mustinya kita sudah "menerapkan" teori ini kan ya, kecuali ada beberapa aspek yg bisa menyebabkan teori ini tidak berlaku. Alhamdulillah Kyai Rori (demikian beliau aku panggil) bisa menyampaikan hal ini dg simple, dalam, dilengkapi dg referensi2nya. Saya sepakat dengan gambaran pada teori ini, semoga senantiasa diberi kekuatan utk bisa mengingatnya .....
Teori ini tentu saja (menurut saya) bukan utk kita pakai saat beraktifitas, melainkan sekedar utk penyemangat, sedang saat beraktifitas tidak perlu lah kita ber-andai2 atau memakai teori/fadhilah ini. Utk berbuat positif kan tidak lah perlu harus didorong-dorong lagi oleh teori2 ataupun fadhilah, meskipun fadhilah itu baik :) Emangnya anak "oknum" anak balita, mau berbuat sesuatu harus di-iming2-i sesuatu terlebih dulu :)
Salam "terbalik".....
Misal :
1. Jika kita ingin pandai, sebaiknya kita harus merasa bodoh
2. Jika ingin kaya, sebaiknya kita harus merasa miskin
3. Jika ingin mulia, sebaiknya kita harus merasa hina
demikian juga sebaliknya :
1. Jika kita ingin bodoh, sebaiknya kita harus merasa pandai
2. Jika ingin miskin, sebaiknya kita harus merasa kaya
3. Jika ingin hina, sebaiknya kita harus merasa mulia
Kelihatannya sangat simple, tapi secara kebetulan, secara naluriah mustinya kita sudah "menerapkan" teori ini kan ya, kecuali ada beberapa aspek yg bisa menyebabkan teori ini tidak berlaku. Alhamdulillah Kyai Rori (demikian beliau aku panggil) bisa menyampaikan hal ini dg simple, dalam, dilengkapi dg referensi2nya. Saya sepakat dengan gambaran pada teori ini, semoga senantiasa diberi kekuatan utk bisa mengingatnya .....
Teori ini tentu saja (menurut saya) bukan utk kita pakai saat beraktifitas, melainkan sekedar utk penyemangat, sedang saat beraktifitas tidak perlu lah kita ber-andai2 atau memakai teori/fadhilah ini. Utk berbuat positif kan tidak lah perlu harus didorong-dorong lagi oleh teori2 ataupun fadhilah, meskipun fadhilah itu baik :) Emangnya anak "oknum" anak balita, mau berbuat sesuatu harus di-iming2-i sesuatu terlebih dulu :)
Salam "terbalik".....

1 Comments:
Best regards from NY! »
Post a Comment
<< Home